Jumat, 11 Juli 2014

UJIAN KIMIA ORGANIK II


NAMA       : TUTI WAHYUNI
NIM           : A1C112002
PRODI        : PENDIDIKAN KIMIA REGULER 2012

1.       Jelaskan kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga pada lemak atau minyak tak jenuh.
2.       Jelaskan bagaimana proses surfaktan pada pencucian menggunakan pelarut organik bebas air.
3.   Bagiamana cara kerja indra pengecap (lidah) sehingga menimbulkan cita rasa manis, contohnya pada fruktosa.
4.       Jelaskan hubungan hormon oksitoksin dengan sinyal gelombang α dan θ yang dikeluarkan oleh otak.
5.      Jelaskan bagaimana sifat basa dapat dihasilkan oleh gugus OH pada sakarida.kaitkan dengan konsep asam basa.

 JAWAB :
 
1.      Lemak tak jenuh adalah lemak yang memiliki relatif banyak ikatan ganda di antara molekul- molekulnya. Lemak tak jenuh hadir dalam dua bentuk: Lemak tak jenuh tunggal dengan satu ikatan ganda antar molekul lemak atau lemak tak jenuh ganda dengan beberapa ikatan ganda antar molekul lemak.
 
Struktur asam lemak tak jenuh
 
Disini kita mengkaji tentang reaksi halogenasi dimana reaksi halogenasi adalah reaksi kimia yang terjadi pada benzena dan molekul halogen diatomik dengan bantuan katalis logam (biasanya besi). Senyawa yang dihasilkan dalam halogenasi adalah aril halida (halobenzena) dan asam halida. Sebagai contoh, jika benzena direaksikan dengan bromin dan katalis besi, akan terbentuk bromobenzena dan asam bromida.dengan ini halogenasi juga merupakan reaksi yang terjadi antara ikatan karbon-karbon rangkap (C=C). 
 
kemungkinan terbentuknya ikatan rangkap tiga pada lemak tak jenuh dapat dilihat dari reaksi halogenasi berikut:
 Seperti telah dijelaskan bahwa reaksi halogenasi juga merupakan proses dimana pemasukan halogen ke dalam senyawa organik. Br   bersifat nukleofil menyerang C yang bermuatan positif pada ikatan rangkap. sehingga elekton pada karbon berpindah posisi sehingga ikatan H terlepas dan berikatan dengan Br yang lain. Sehingga terjadi reaksi substitusi dan produknya karena reaksi halogenasi dapat berlangsung secara adisi maupun subsitusi.
.
ikatan rangkap 3pada asam lemak tak jenuh akan terbentuk jika direaksikan oleh senyawa halogen yang besifat nukleofilik  supaya salah satu dari ikatan hydrogen pada ikatan rangkap dapat tersubstitusi dan atom H yang satunya dapat ditarik oleh Basa kuat dan menyebabkan gugus halide menjadi gugus pergi, dengan demikian ketika basa kuat direaksikan dengan asam lemak tak jenuh maka ia akan menyerang atom Br sehingga akan terputus dan memungkinkan terbentuknya ikatan rangkap 3 dikarena iakatan pada Br nya telah terputus dan terjadi pertumpangan. Disini atom H yang terikat pada atm C akan mengalami ketidakstabilan karena atom C akan stabil jika memiliki 4 tangan namun disini memiliki 5 tangan.sehingga dengan demikianatom H akan di putuskan dan berikatan dengan H2O. Dan terbentuklah ikatan rangkap 3.
Pada reaksi substitusi nukleofilik atom atau gugus yang diganti mempunyai elektronegativitas lebih besar dari atom C, dan atom atau gugus pengganti adalah suatu nukleofil, baik nukleofil netral atau nukleofil yang bermuatan negatif.
 

 
2.         deterjen  merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. 
 
Reaksi pembuatan pada deterjen

Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:

            1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktant ini baik berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS), Kationik (Garam Ammonium), Non ionic (Nonyl phenol polyethoxyle), Amphoterik (Acyl Ethylenediamines).
2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Baik berupa Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate/STPP), Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA, Ethylene Diamine Tetra Acetate/EDTA), Silikat (Zeolit), dan Sitrat (asam sitrat).
            3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh : Sodium sulfate.
4. Additives adalah bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh detergent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti Redeposisi). Wangi – wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat.
            Proses pembuatan detergen dimulai dengan membuat bahan penurun tegangan permukaan, misalnya : p – alkilbenzena sulfonat dengan gugus alkil yang sangat bercabang disintesis dengan polimerisasi propilena dan dilekatkan pada cincin benzena dengan reaksi alkilasi Friedel – Craft Sulfonasi, yang disusul dengan pengolahan dengan basa.
Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya.
             Builders, salah satu yang paling banyak dimanfaatkan di dalam deterjen adalah phosphate. Phosphate memegang peranan penting dalam produk deterjen, sebagai softener air. Bahan ini mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion kalsium dan magnesium. Berkat aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat.
                 Sebagai mana kita ketahui bahwa air bersifat polar yang  terdapat  ion H+ dan OH .sedangkan  Asam format adalah suatu cairan yang tidak berwarna, berbau tajam/menyengat, Asam format dapat larut sempurna dengan air dan sedikit larut dalam benzena, karbon tetra klorida, toluena, serta tidak larut dalam hidrokarbon alifatik seperti heptana dan oktana. Asam format,   (L. Formica = semut). Kemudian Aseton larut dalam berbagai perbandingan dengan air, etanol, dietil eter,dll. Ia sendiri juga merupakan pelarut yang penting. Aseton digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan senyawa-senyawa kimia lainnya.
Jadi menurut saya pelarut yang dapat digunakan untuk menggantikan air sebagai pelarut adalah aseton namun asam format juga dapat digunakan berbahaya jika digunakan sebagai pelarut dalam mencuci karena asam ini dapat merusak kulit ketika digunakan. Aseton sering kali merupakan komponen utama (atau tunggal) dari cairan pelepas cat kuku. Etil asetat, pelarut organik lainnya, kadang-kadang juga digunakan. Aseton juga digunakan sebagai pelepas lem super. Ia juga dapat digunakan untuk mengencerkan dan membersihkan resin kaca serat dan epoksi. Ia dapat melarutkan berbagai macam plastik dan serat sintetis.Ia sangat baik digunakan untuk mengencerkan resin kaca serat, membersihkan peralatan kaca gelas, dan melarutkan resin epoksi dan lem super sebelum mengeras.Selain itu, aseton sangatlah efektif ketika digunakan sebagai cairan pembersih dalam mengatasi tinta permanen. .Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon, propan-2-on, dimetilformaldehida, dan β-ketopropana.


3.         Lidah adalah alat indera yang berfungsi untuk merasakan rangsangan rasa dari benda-benda yang masuk ke dalam mulut kita. Lidah dapat merespon berbagai jenis dan macam rasa seperti rasa manis, rasa pahit, rasa asam dan rasa asin. Bagian lidah yang depan berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan rasa manis dan bagian lidah yang belakang untuk rasa pahit. Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap
 
kita dapat merasakan rasa manis, asin, asam, dan pahit menggunakan lidah. Rasa yang dikenal lidah terdiri atas 4 rasa.
                        Mekanisme kerja lidah adalah Tiap kuncup pengecap tersusun dari sel-sel yang memiliki rambut berukuran mikro yang sensitif, disebut mikrovilli. Rambut-rambut super mini ini pada saat berkontak dengan makanan akan mengirimkan pesan ke otak, lalu otak akan menerjemahkan sinyal yang diberikan tersebut dan menentukan rasa dari makanan yang kita makan.Kuncup pengecap untuk masing-masing indra tersebut terletak di daerah yang berbeda-beda pada lidah kita. Untuk citarasa manis berada di bagian ujung lidah, juga untuk rasa asin.K uncup pengecap untuk rasa masam ada di sisi lidah. Sedangkan kuncup pengecap untuk cita rasa pahit berada di bagian belakang lidah. Inilah sebabnya apabila kamu makan makanan yang mempunyai rasa manis dan pahit sekaligus, maka yang terasa lebih awal adalah rasa manis barulah kemudian rasa pahit. Rasa manis dimulai dengan melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G ) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada puting pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya akan diteruskan ke otak.

Lalu bagaimana dengan contohnya pada sukrosa, di ketahui bahwa Sukrosa merupakan molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa . Fruktosa merupan glukosa juga dan bersifat manis (gula buah) maka akan terikat oleh G protein–coupled receptors (GPCRs), yang disebut T1R (Reseptor manis) dan protein G akan  mentranduksi sinyal menuju IP3 dan akan meningkatkan ion Ca2+. Peningkatan kandungan ion Ca2+  intraseluler menyebabkan terjadinya dua hal dalam sel-sel pengecap. tinjauan sensasi rasa dilihat dari zat-zat kimia penimbul sensasi rasa yaitu :

1)  Pahit, ditimbulkan oleh alkaloid tumbuhan. Alkaloid ialah zat-zat organik yang aktif dalam  kegiatan fisiologis yang terdapat dalam tumbuhan.Contohnya  ialah kina, cafein,  nikotin,  morfin dan lain-lain. Banyak dari zat-zat ini bersifat racun.
2)      Asin, ditimbulkan oleh kation Na+, K + dan Ca+3.
3)       Manis, ditimbulkan oleh gugus OH- dalam molekul organik. Gugus initerdapat pada gula, keton dan asam amino tertentu.
4)      Asam, ditimbulkan oleh ion H+

                       

4.         Otak Anda terdiri dari milyaran sel otak yang disebut neuron. Setiap neuron saling berkomunikasi (menjalin hubungan) dengan memancarkan gelombang listrik. Gelombang listrik yang dikeluarkan oleh neuron dalam otak inilah yang disebut "gelombang otak".Gelombang otak bisa diukur dengan peralatan Electroencephalograph (EEG). Diketahui bahwa frekuensi gelombang otak yang dihasilkan oleh neuron bervariasi antara 0-30 Hz dan digolongkan menjadi gelombang delta, theta, alpha dan beta. Setiap gelombang punya karakteristik yang berbeda-beda serta menandakan kondisi mental seseorang.
 
Ilustrasi gelombang listrik (brainwave) yang dikeluarkan oleh neuron otak.
Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai karakteristik empat jenis gelombang otak yang umumnya muncul pada setiap orang. 
Gelombang Beta: Waspada, Konsentrasi.

Kondisi gelombang otak Beta (13-30 Hz) menjaga pikiran kita tetap tajam dan terfokus. Dalam kondisi Beta, otak Anda akan mudah melakukan analisis dan penyusunan informasi, membuat koneksi, dan menghasilkan solusi-solusi serta ide-ide baru. Beta sangat bermanfaat untuk produktivitas kerja, belajar untuk ujian, persiapan presentasi, atau aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan tinggi.

Gelombang Alpha: Kreativitas, Relaksasi, Visualisasi

Gelombang otak Alpha (8-13 Hz) sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong aliran energi kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak Alpha ideal untuk perenungan, memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak sebagai gerbang kreativitas kita.

Gelombang Theta: Relaksasi mendalam, Meditasi, Peningkatan Memori
Lebih lambat dari Beta, kondisi gelombang otak Theta (4-8 Hz) muncul saat kita bermimpi pada tidur ringan. Atau juga sering dinamakan sebagai mengalami mimpi secara sadar. Frekuensi Theta ini dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah lama. Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang lebih dalam, menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan kurang tidur, meningkatkan kreativitas dan pembelajaran.

Gelombang Delta: Penyembuhan, Tidur Sangat Nyenyak.

Kondisi Delta (0.5-4 Hz), saat gelombang otak semakin melambat, sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang sangat dalam. Beberapa frekuensi dalam jangkauan Delta ini diiringi dengan pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone), yang bermanfaat dalam penyembuhan. Kondisi Delta, jika dihasilkan dalam kondisi terjaga, akan menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya ke pikiran sadar. Kondisi Delta juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia yang memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi.

Lalu bagaimana hubungan hormon oksitosin dengan gelombang alpa dan teta yang dikeluarkan oleh otak? Gelombang otak Alpha (8-13 Hz) sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong aliran energi kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak Alpha ideal untuk perenungan, memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak sebagai gerbang kreativitas kita. Frekuensi Theta ini dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah lama. Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang lebih dalam, menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan kurang tidur, meningkatkan kreativitas dan pembelajaran. Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah. Hormon ini di beri nama oksitosin berdasarkan efek fisiologisnya yakni percepatan proses persalinan dengan merangsang kontraksi otot polos uterus. Peranan fisiologik lain yang dimiliki oleh hormon ini adalah meningkatkan ejeksi ASI dari kelenjar mammae.
Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin Dengan dosis beberapa miliunit permenit intra vena, rahim yang hamil sudah berkontraksi demikian kuat sehingga seakan-akan dapat membunuh janin yang ada didalamnya atau merobek rahim itu sendiri atau kedua-duanya. Karena oksitosin merangsang kontraktilitas uterus maka hormon ini digunakan untuk memperlancar persalinan, tetapi tidak akan memulai persalinan kecuali kehamilan sudah aterm.
 Pada saat proses kelahiran si ibu yang akan melahirkan itu pasti takut/cemas, stress dan deg-degan.Kondisi ini yang menghambat kinerja hormone oksitosin dengan otak untuk membentuk pola gelombang otak alfa dan teta. Hal ini bisa menyebabkan si ibu yang akan melahirkan itu mengalami pendarahan yang hebat dan mengakibatkan kematian.
neurotransmitter membawa gelombang alpha dan theta dimana gelombang alpha memiliki fungsi untuk menengkan ibu dalam proses kehamilan agar dalam proses penghamilan tidak mengalami pendarahan yang serius sehingga ibu bisa melahirkan dengan lancar sedangkan gelombang theta hampir sama dengan gelombang alpha karena kedua gelombang ini berhubungan dengan alam bawah sadar manusia hanya saja pada gelombang ini tingkat bawah sadar yang lebih dalam lagi sehingga bisa dibilang manusia pada kondisi gelombang theta ini setengah sadar. Sehingga saat ibu menghamilkan rasa cemas maupun stress itu berkurang karena gelombang alpha & theta yang di rangsang oleh hormone oksitosin.
Beta-endorphin,Sebagai opiat alami, beta-endorphin memiliki sifat yang mirip dengan petidin (meperidin, Demerol), morfin, dan heroin, dan telah terbukti bekerja pada reseptor yang sama dari otak. Seperti oksitosin, beta-endorphin  disekresikan dari kelenjar hipofisis, dan kadarnya meningkat saat berhubungan seks, kehamilan, kelahiran, dan menyusui.
Beta-endorphin juga merupakan hormon stres, dirilis di bawah kondisi tekanan dan rasa sakit, berperan sebagai penghilang rasa sakit (analgesik) dan, seperti hormon stres lainnya, menekan sistem kekebalan tubuh. Efek ini mungkin penting dalam mencegah sistem kekebalan tubuh ibu hamil menganggap bayinya sebagai material genetik asing di salam tubuhnya.


5.         Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Karbohidrat meliputi monosakarida, disakarida, dan polisakarida dengan rumus umum (CH2O)n. Karbohidrat adalah senyawa organik netral yang berupa polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton dengan rumus empiris Cx(H2O)n dengan ketentuan sebagian besar nilai n sama dengan 3 atau lebih. Selain unsur C, H, dan O ada juga yanng karbohidrat yang mempunyai unsur lain berupa fosfor (P), nitrogen (N), atau sulfur (S). Bentuk polihidroksi aldehida disebut juga aldosa dan polihidroksi keton dinamakan ketosa. Kedua bentuk karbohidrat tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: (1) Gula yang terdiri dari monosakarida dan oligosakarida. (2) Non-gula yang terdiri dari polisakarida dan karbohidrat kompleks.
            sukrosa merupakan suatu disakarida yang dibentuk dari monomer-monomernya yang berupa unit glukosa dan fruktosa, dengan rumus molekul C12H22O11.[1] Senyawa ini dikenal sebagai sumber nutrisi serta dibentuk oleh tumbuhan, tidak oleh organisme lain seperti hewan Penambahan sukrosa dalam media berfungsi sebagai sumber karbon.
 
Struktur dua monosakirada bergabung membentuk disakarida yaitu sukrosa.
Berdasarkan konsep asam basa brownsted-lowry Ketika sebuah senyawa yang berperilaku seperti asam mendonorkan proton, haruslah terdapat basa yang menerima proton tersebut. Sehingga konsep asam basa Brønsted–Lowry dapat didefinisikan sebagai reaksi:
Asam + Basa basa konjugat + asam konjugat.
Basa konjugat adalah ion atau molekul yang dihasilkan setelah asam kehilangan protonnya, sedangkan asam konjugat adalah spesi yang dihasilkan ketika basa menerima proton. Reaksi ini bersifat reversibel dan dapat berjalan terbalik maupun ke depan. Dan pada gambar diatas Fruktosa tersebut memiliki gugus OH- yang bersifat basa dan dapat menarik asam (gugus H+ ) pada glukosa.